Program MBG Dinilai Berisiko Pemborosan, Pengamat Soroti Anggaran Negara

Calon Karyawan - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini dijalankan pemerintah masih menjadi perbincangan luas di tengah masyarakat. Kebijakan tersebut memunculkan berbagai pendapat karena membutuhkan anggaran sangat besar sejak tahap awal pelaksanaan.

Banyak pihak menilai program ini memiliki potensi membebani keuangan negara apabila pengelolaannya tidak dilakukan secara tepat dan terukur. Sejumlah pengamat juga khawatir pembiayaan program MBG dapat terus meningkat dari tahun ke tahun hingga berdampak pada pengurangan anggaran sektor penting lainnya seperti pendidikan dan kesehatan.

Program MBG Dinilai Berisiko Pemborosan, Pengamat Soroti Anggaran Negara
Informasi tersebut disampaikan dalam laporan yang dilansir dari UGM.ac.id. Karena itu, muncul dorongan agar pemerintah lebih selektif dalam menentukan kelompok penerima manfaat supaya penggunaan anggaran menjadi lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran.

Program MBG Dinilai Memiliki Risiko Pemborosan

Ekonom sekaligus Koordinator Bidang Kajian Pengentasan Kemiskinan dan Ketimpangan (EQUITAS) FEB UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, menilai program MBG menghadapi tantangan cukup besar terutama pada aspek distribusi dan pengadaan bahan pangan.

Menurutnya, program berskala nasional seperti MBG berpotensi menimbulkan pemborosan karena penerapannya bersifat universal. Artinya, bantuan makanan juga diterima oleh anak-anak dari keluarga mampu yang sebenarnya tidak terlalu membutuhkan dukungan tersebut.

Selain persoalan penerima manfaat, pengawasan kualitas makanan juga dianggap menjadi tantangan besar. Pemerintah dinilai perlu memastikan seluruh makanan yang disalurkan benar-benar memenuhi standar gizi dan keamanan pangan yang telah ditetapkan.

Wisnu menjelaskan bahwa proses pemantauan kualitas makanan dalam program sebesar MBG tidak mudah dilakukan karena cakupan penerima yang sangat luas serta distribusi yang menjangkau banyak wilayah di Indonesia.

Baca juga: Program Makan Bergizi Gratis 2026 dan Pengaruhnya terhadap APBN

Pemerintah Disarankan Belajar dari Program Negara Lain

Untuk mendukung keberhasilan program MBG, pemerintah dinilai perlu mempelajari sistem serupa yang telah diterapkan negara lain. Salah satu contoh yang disebut adalah program makan gratis sekolah di Amerika Serikat.

Di Amerika Serikat, program tersebut dijalankan melalui pendekatan Farm to Table yang didukung oleh Sustainable Agriculture Research and Education (SARE). Program itu melibatkan petani, peternak, tenaga pendidik, hingga komunitas lokal dalam rantai distribusi pangan sekolah.

Model tersebut dinilai mampu menciptakan sistem distribusi makanan yang lebih efektif sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi daerah. Selain itu, penggunaan bahan pangan lokal juga dapat menekan biaya logistik dan mendukung keberlangsungan usaha masyarakat setempat.

National School Lunch Program Jadi Contoh Pengelolaan Gizi Sekolah

Selain Farm to Table, Amerika Serikat juga memiliki National School Lunch Program (NSLP) yang menyediakan makanan bergizi bagi jutaan anak sekolah terutama dari keluarga berpenghasilan rendah.

Program tersebut menerapkan standar gizi ketat sesuai kebijakan Healthy, Hunger-Free Kids Act (HHFKA) 2010. Pemerintah setempat juga melibatkan pemasok makanan lokal dan dapur terpercaya agar kualitas makanan tetap terjaga.

Wisnu menilai pendekatan seperti ini dapat menjadi referensi penting bagi Indonesia agar program MBG tidak hanya berjalan besar secara anggaran, tetapi juga efektif dalam pelaksanaannya.

Dengan sistem distribusi yang lebih terukur serta fokus kepada kelompok prioritas, pemerintah dinilai dapat meminimalkan potensi pemborosan anggaran sekaligus meningkatkan manfaat program bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Baca juga: Cara Daftar Jobstreet dengan Mudah dan Cepat

Program MBG Sebaiknya Fokus pada Kelompok Rentan

Wisnu menyarankan agar pemerintah lebih memprioritaskan sekolah dan daerah dengan tingkat kerawanan pangan tertinggi. Menurutnya, keterbatasan anggaran negara membuat program MBG sebaiknya difokuskan terlebih dahulu kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Ia berpandangan bahwa program MBG tetap dapat memberikan manfaat besar apabila pelaksanaannya benar-benar tepat sasaran. Fokus terhadap kelompok rentan dinilai akan membuat penggunaan anggaran menjadi lebih efektif dan memberikan dampak sosial lebih besar.

Selain program makan gratis, pemerintah juga dapat mempertimbangkan alternatif lain seperti subsidi bahan pangan bagi keluarga miskin, pemberian voucher makanan, atau dukungan pendanaan fleksibel kepada sekolah untuk menyediakan makanan bergizi.

Pendekatan tersebut dinilai mampu memberikan ruang penyesuaian sesuai kondisi masing-masing daerah sekaligus mengurangi risiko pemborosan anggaran negara.

Transparansi dan Pengawasan Dinilai Sangat Penting

Agar program MBG berjalan efektif, Wisnu menilai pemerintah perlu memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran.

Ia menyarankan adanya audit independen serta keterlibatan masyarakat dalam proses pengawasan program. Langkah tersebut penting untuk memastikan penggunaan dana publik benar-benar tepat sasaran dan tidak menimbulkan penyimpangan.

Selain itu, pendekatan desentralisasi juga dianggap dapat menjadi strategi yang lebih efektif. Pemerintah daerah dinilai lebih memahami kebutuhan masyarakat di wilayah masing-masing sehingga mampu mengelola distribusi bantuan dengan lebih tepat.

Sistem ini juga membuka peluang lebih besar bagi UMKM lokal dan petani kecil untuk ikut terlibat dalam penyediaan bahan pangan program MBG.

Baca juga: Cara Daftar Jobstreet dengan Mudah dan Cepat

Efisiensi Anggaran Perlu Dilakukan Secara Hati-Hati

Wisnu menilai pemerintah sebenarnya masih memiliki peluang melakukan efisiensi anggaran tanpa harus mengorbankan sektor penting seperti pendidikan dan kesehatan.

Menurutnya, pemangkasan anggaran sebaiknya difokuskan pada belanja birokrasi, perjalanan dinas, hingga proyek infrastruktur yang belum mendesak.

Selain itu, pemerintah juga dapat mempertimbangkan penerapan pajak progresif bagi kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi sebagai salah satu alternatif pendanaan program sosial.

Ia berharap program MBG tidak hanya menjadi kebijakan populer jangka pendek, tetapi benar-benar mampu memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat luas.

Program MBG Dinilai Tetap Memiliki Dampak Positif

Di balik berbagai kritik yang muncul, Wisnu tetap menilai program MBG memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Berdasarkan sejumlah penelitian internasional, program makan gratis bagi anak sekolah terbukti mampu meningkatkan ketahanan pangan dan kondisi kesehatan anak.

Selain itu, program serupa juga dinilai berpengaruh terhadap peningkatan performa belajar siswa di sekolah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan produktivitas tenaga kerja nasional.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa penanganan stunting tetap membutuhkan pendekatan lebih luas karena pencegahannya harus dilakukan sejak usia dini, terutama pada masa golden age anak sebelum usia lima tahun.

Baca juga: Cara Daftar LinkedIn untuk Fresh Graduate agar Cepat Dilirik HRD

FAQ

1
Kenapa Program MBG menuai pro dan kontra?
Program MBG menuai pro dan kontra karena membutuhkan anggaran sangat besar dan dinilai berpotensi mengurangi alokasi dana untuk sektor penting lain seperti pendidikan, kesehatan, dan pembangunan daerah.
2
Apa risiko utama Program MBG menurut pengamat?
Salah satu risiko utama program MBG adalah potensi pemborosan anggaran karena bantuan diberikan secara universal, termasuk kepada anak dari keluarga mampu yang sebenarnya tidak membutuhkan bantuan tersebut.
3
Kenapa pemerintah disarankan fokus pada keluarga kurang mampu?
Fokus kepada keluarga kurang mampu dinilai membuat anggaran lebih efektif, tepat sasaran, dan mampu memberikan dampak sosial lebih besar terutama bagi daerah dengan tingkat kerawanan pangan tinggi.
4
Apa contoh program makan gratis dari negara lain?
Amerika Serikat memiliki program Farm to Table dan National School Lunch Program (NSLP) yang melibatkan petani lokal serta menerapkan standar gizi ketat untuk mendukung kebutuhan anak sekolah.
5
Apa manfaat Program MBG dalam jangka panjang?
Program MBG berpotensi meningkatkan kualitas gizi, kesehatan anak, performa belajar siswa, hingga produktivitas tenaga kerja apabila dijalankan secara tepat sasaran dan berkelanjutan.

Kesimpulan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan besar pemerintah yang memiliki tujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah dan kelompok rentan. Namun, besarnya kebutuhan anggaran membuat program ini masih memunculkan banyak perdebatan di tengah masyarakat.

Sejumlah pengamat menilai pemerintah perlu lebih berhati-hati dalam pengelolaan program agar tidak menimbulkan pemborosan dan tetap menjaga keseimbangan anggaran negara. Fokus kepada keluarga kurang mampu, penguatan pengawasan, serta pelibatan pemerintah daerah dan UMKM lokal dinilai dapat menjadi langkah penting agar program MBG berjalan lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran.

Posting Komentar untuk "Program MBG Dinilai Berisiko Pemborosan, Pengamat Soroti Anggaran Negara"